Harga Kedelai Mahal, Pengrajin Tempe di Blora Putar Strategi untuk Bertahan
BERHARAP HARGA SEGERA TURUN

By TOHAR TOKASAPU 05 Jan 2021, 12:38:22 WIB EKONOMI
Harga Kedelai Mahal, Pengrajin Tempe di Blora Putar Strategi untuk Bertahan

Blora (beritakita.net) -  Sejak pertengahan Desember 2020, harga kedelai mengalami kenaikan. Rata-rata per kilogram naik Rp 2 ribu, bahkan di sejumlah tempat, ada yang lebih dari Rp 2 ribu. Naiknya harga kedelai, membuat para pengrajin tempe di Kabupaten Blora resah. Pasalnya, hal itu sangat mempengaruhi produksi dan penghasilan mereka.

Berbagai cara dilakukan agar mereka bisa terus bertahan untuk memproduksi tempe, meski hanya untung tipis, tidak seperti sebelum harga kedelai melonjak. Strategi sekedar bertahan produksi itu, ada yang menaikkan harga jual, juga ada yang mengurangi ukuran.

Baca Lainnya :

Hal itu seperti dilakukan Katini (55) perajin tempe yang beralamat di jalan Serayu Kelurahan Kedungjenar, Kecamatan Blora kota. Katini memilih mengurangi ukuran produknya untuk mensiasati agar tidak menaikkan harga jual.

Menurut ibu tiga anak itu, tingginya harga kedelai memaksa sejumlah pembuat tempe, termasuk dirinya menaikkan harga jual. Selain itu juga ada yang mengurangi ukuran tempe. 

"Harga kedelai naik, ya harga jual tempe juga saya naikkan, Mas. Saya ini kan jual kiloan. Per kilonya saya naikkan Rp 2 ribu, yang biasanya Rp 10 ribu, menjadi Rp 12 ribu," ubgkap Katini, Selasa (05/01/2021).

Karena harga sudah dinaikkan, maka Katini membuat ukuran tempe tetap sama, tidak dikurangi atau tidak diperkecil. Katini mengaku sudah sejak tahun 1977 berjualan tempe. Setiap hari, Katini menghabiskan kedelai sebanyak 40-50 kilogram. 

"Setiap hari produksi saya itu minimal menghabiskan 40 kilogram kedelai. Tapi kalau ada pesanan banyak, bisa habis 50 kilogram," tandas Katini seraya menambahkan, konsumennya warga di sekitar rumahnya, karena banyak yang jualan keripik tempe.

Meski harga kedelai tinggi, tidak membuat ia mengurangi produksinya. Saat ini produksi tempenya masih seperti saat harga kedelai belum naik. Karena konsumen tempe Katini, rata-rata sudah paham, kalau harga tempe naik, pasti kedelai harganya naik.

Meski begitu, dirinya berharap agar harga kedelai segera turun. Kalau bisa kembali ke awal, yakni Rp 7 ribu per kilogram. Menurut Katini, apalagi ini lagi musim Covid-19, kenaikan harga kedelai dampaknya sangat dirasakan masyarakat.

"Saya juga berharap supaya pemerintah segera bertindak, agar harga kedelai segera stabil dan tidak terus mengalami kenaikan yang bisa memberatkan para pengrajin tempe," kata Katini. (ELY)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment