Islam, Jihad, dan Terorisme
Oleh Gunoto Saparie

By TOHAR TOKASAPU 09 Apr 2021, 03:48:21 WIB KAJIAN AGAMA
Islam, Jihad, dan Terorisme

Teror lagi, teror lagi, lagi, dan lagi. Tiba-tiba saja Minggu pagi, 28 Maret 2021 pukul 10.24 Wita kita dikejutkan oleh bom bunuh diri yang terjadi di halaman parkir Gereja Katedral, Makassar. Padahal saat itu sedang berlangsung ibadah Palma. Tiba-tiba pula, beberapa hari kemudian, seorang perempuan sendirian membawa pistol menyerang Mabes Polri. 

Terorisme selalu identik dengan teror, kekerasan, ekstrimitas, dan intimidasi. Para pelakunyabiasa disebut sebagai teroris. Oleh karena itu, terorisme sebagai paham yang identik dengan teror seringkali menimbulkan konsekuensi negatif dan destruktif bagi kemanusiaan. Terorisme kerap menjatuhkan korban kemanusiaan dalam jumlah yang tak terhitung. Karena itu, hampir semua negara di seluruh penjuru dunia ini membenci kata terorisme dan segala derivasinya.

Baca Lainnya :

Dalam bahasa Arab sendiri, terorisme dikenal dengan istilah al-irhab. Dari sini, bisa dipahami bahwa kata al-irhab (teror) berarti (menimbulkan) rasa takut. Irhabi (teroris) artinya orang yang membuat orang lain ketakutan, orang yang menakut-nakuti orang lain. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence.

Terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, dalam usaha mencapai suatu tujuan (terutama tujuan politik). Sedangkan teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut (biasanya untuk tujuan politik), dan teror adalah perbuatan sewenang-wenang, kejam, bengis, dalam usaha menciptakan ketakutan, kengerian oleh seseorang atau golongan.

Satu hal yang membuat kita prihatin, gerakan terorisme kini mulai banyak melibatkan perempuan. Narasi perempuan sebagai ibu membuat jaringan terorisme semakin tertarik. Mereka mudah menggunakannya sebagai agensi terorisme.

KENDARAAN AGAMA

Terorisme sebagai gerakan yang membawa “ambisi kebenaran”, menggunakan pelbagai kendaraan. Ada yang menggunakan kendaraan agama, politik, dan ekonomi. Apapun kendaraannya, terorisme menampilkan wataknya yang serba hegemonik, anarkis, dan radikal. 

Ajaran Islam adalah ajaran yang mendatangkan rahmat bagi umat manusia. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia.” (QS.21: 107).

Ibnu Abbas menerangkan bahwa rahmat tersebut bersifat umum mencakup orang yang baik-baik maupun orang yang jahat. Barang siapa yang beriman kepada Muhammad, maka akan sempurnalah rahmatnya di dunia sekaligus di akhirat. Sedangka orang yang kufur kepadanya, maka hukuman--yang sesungguhnya--akan disisihkan darinya sampai datangnya kematian dan hari kiamat. Di antara bukti kasih sayang Islam kepada umat manusia adalah Islam tidak membenarkan penumpahan darah manusia tanpa alasan yang benar.

Sabda Allah: “Janganlah kamu membunuh nyawa yang diharamkan Allah--untuk dibunuh--kecuali dengan sebab yang benar.” (QS. 6: 151).

Persoalan utama yang menjadi pembahasan terorisme dalam pandangan Islam adalah pemaknaan kata “jihad”. Jihad lebih sering dipahami dalam kerangka balas dendam, karena orang-orang kafir telah memerangi muslim tanpa batas, sehingga muslim wajib membalasnya dengan memerangi kafir secara tanpa batas pula. 

Menurutnya, dalam ketentuan syariah, jihad berarti berperang melawan kaum kafir yang memerangi Islam dan kaum muslimin. Konsep inilah yang ia sebut dengan jihad fi sabilillah.

Allah berfirman: ”Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu. Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. 2:190)

Pertanyaan pun mencuat ke permukaan: Adakah korelasi fungsional antara Islam dan terorisme? Bisakah gerakan keagamaan yang diduga dalang terorisme sebagai representasi Islam, baik dalam ranah ajaran maupun pengikutnya?

Wakil Presiden Ma`ruf Amin pernah menyatakan bahwa terorisme tidaklah identik dengan Islam. Terorisme, menurut dia, juga bukanlah jihad, dan MUI telah mengeluarkan fatwa haram terhadap terorisme. Terorisme merupakan tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat.

Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik, bersifat trans-nasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa yang tidak membeda-bedakan sasaran (indiskrimatif). Sedangkan jihad adalah berjuang dengan sungguh-sungguh. Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan agama Allah, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para rasul dan Alquran. 

Jihad yang dilaksanakan Muhammad adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan kalbu, memberikan pengajaran kepada umat, dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka, yaitu menjadi khalifah Allah di bumi.

JIHAD PALING BERAT

Akan tetapi, jihad yang paling berat sebenarnya adalah jihad melawan hawa nafsu, sebagaimana tersebut pada QS. 79: 40-41. Maksudnya jihad melawan godaan setan, mengekang hawa nafsu dari melakukan hal-hal yang haram. Jihad dalam bentuk perang harus jelas pihak-pihak mana saja yang terlibat dalam peperangan, seperti halnya perang yang dilakukan Muhammad yang mewakili Madinah melawan Makkah dan sekutu-sekutunya. Alasan perang tersebut terutama dipicu oleh kezaliman kaum Quraisy yang melanggar hak hidup kaum muslimin yang berada di Makkah (termasuk perampasan harta kekayaan kaum muslimin serta pengusiran).

Jihad, menurut Islam, adalah sebagai penyempurnaan segenap ibadah. Oleh karena itu, jihad sering disebut sebagai tiang ibadah. Ia dianggap sebagai perwujudan dari cinta kasih kepada Allah seorang hamba, di mana merelakan jiwa, raga, dan harta bendanya dalam perjuangan. Perjuangan itu adalah untuk mewujudkan perdamaian, keadilan, dan kehormatan atas dasar nilai-nilai kemanusiaan. Akan tetapi, terorisme yang merupakan kekerasan politik bertentangan dengan etos kemanusiaan.

Islam mengajarkan etos kemanusiaan yang sangat menekankan kemanusiaan universal. Islam menganjurkan umatnya untuk berjuang mewujudkan perdamaian, keadilan, dan kehormatan. Namun, suatu kekeliruan kalau kita mengartikan perjuangan itu harus dilakukan dengan cara-cara kekerasan atau terorisme. Dengan kata lain, untuk mencapai suatu tujuan yang baik sekali pun Islam tidak memperkenankan kita menghalalkan segala cara.

Kata “jihad” sendiri termuat dalam Alquran sebanyak 41 kali dengan berbagai bentuknya. Kata “jihad” terambil dari kata “jahd” yang berarti “letih/sukar”. Jihad memang sulit dan menyebabkan keletihan. Akan tetapi, ada pula yang berpendapat bahwa jihad berasal dari akar kata “juhd” yang berarti “kemampuan”. Hal ini karena jihad menuntut kemampuan, dan harus dilakukan sebesar kemampuan. Dari kata yang sama tersusun ucapan “jahidah bir-rajul”, di mana berarti “seseorang sedang mengalami ujian”. Kata ini mengandung makna ujian dan cobaan.

Barangkali karena jihad memang merupakan ujian dan cobaan bagi kualitas seseorang.

Allah bersabda: “Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad antara kamu dan (belum nyata) orang-orang yang sabar (Q.S Ali Imran (3) : 142). Ini berarti, jihad merupakan cara yang ditetapkan Allah untuk menguji manusia. Ia berkaitan pula dengan kesabaran. Jihad adalah sesuatu yang sulit, memerlukan kesabaran, serta ketabahan.

Jihad juga mengandung arti “kemampuan” yang menuntut sang mujahid mengeluarkan segala daya dan kemampuannya demi mencapai tujuan. Oleh karena itu, jihad adalah pengorbanan. Dengan demikian sang mujahid tidak menuntut atau mengambil, tetapi memberi semua yang

dimilikinya. Ketika memberi, dia tidak berhenti sebelum tujuannya tercapai atau yang dimilikinya habis.

Keterbatasan literasi dan referensi dewasa ini membuat tema jihad dipahami hanya sebagai sebuah gerakan fisik yang berkonotasi kekerasan, kekejaman, kebrutalan, dan bahkan pertumpahan darah. Tren pemaknaan jihad seperti ini makin diperparah dengan kemunculan beberapa tragedi kemanusiaan yang diklaim sebagai akibat terorisme. Tak pelak, opini pun mengarah kepada Islam. 

Islam sebagai agama “rahmatan lil ‘alamin”, agama penabur kasih bagi seluruh alam pun menjadi tertuduh. Ketika sang teroris mengaku beragama Islam, perilaku kekerasannya konon mengacu pada tafsir ayat-ayat kitab suci yang keliru, mengakibatkan timbulnya berbagai opini negatif terhadap agama Islam. Ada kesan Islam mengajarkan atau menganjurkan bagi pemeluknya untuk menyelesaikan masalah dengan cara-cara kekerasan atau teror.

Isu terorisme memang telah menjadikan citra ajaran Islam dan umat Islam secara keseluruhan, termasuk di Indonesia, menjadi tersudutkan. Islam dipersepsikan sebagai ajaran agama yang menghalalkan dan menebarkan terorisme di muka bumi. Padahal Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi alam semesta justru mengharamkan terjadinya tindak terorisme apa pun dalihnya. 

Gunoto Saparie adalah Fungsionaris ICMI Jateng dan mantan Penyuluh Agama Madya Kanwil Kemenag Jateng




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment