Ketika Allah Menegur Muhammad
Oleh Gunoto Saparie

By TOHAR TOKASAPU 08 Jan 2021, 00:21:15 WIB KAJIAN AGAMA
Ketika Allah Menegur Muhammad

Nabi Muhammad ternyata beberapa kali ditegur oleh Allah. Teguran-teguran itu pun diabadikan dalam sejumlah ayat di Alquran. Akan tetapi, Muhammad tidak sendirian. Kita tentu masih ingat, bagaimana dalam suatu kisah disebutkan bahwa Nabi Musa pernah ditegur oleh Allah juga ketika ia merasa sebagai manusia terpandai. Teguran yang mengakibatkan Musa harus belajar kepada Khidir.

Nabi Nuh pun pernah ditegur Allah ketika mencoba menyelamatkan anaknya yang menyekutukan Tuhan. Begitu juga Nabi Yunus; beliau pernah ditegur dengan ditelan oleh ikan besar. Sedangkan Nabi Ibrahim ditegur Allah ketika menolak melayani tamu hanya karena si tamu adalah seorang Majusi.

Ada teguran Allah yang membikin Nabi Muhammad merasa sangat terpukul. Hal itu terjadi ketika Muhammad menunjukkan wajah masam melihat kehadiran sahabatnya yang buta namun memiliki suara indah. Sahabat itu adalah Abdullah bin Ummi Maktum, sepupu Siti Khadijah, yang berarti sepupu Muhammad juga. Abdullah merupakan salah satu generasi as-sabiquna al-awwalun--orang pertama yang memeluk Islam.

Baca Lainnya :

Ketika itu Muhammad sedang berdialog dengan para pembesar suku Quraisy, antara lain Utbah bin Rabi’ah, Abbas bin Abdul Mutahlib, dan Abu Jahal bin Hisyam. Ketika mereka sedang diskusi seru, tiba-tiba Abdullah datang dan berkata, \“Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku ayat-ayat yang telah Allah ajarkan kepadamu. Berilah aku petunjuk.” Akan tetapi, karena Muhammad sedang berbicara dengan para tokoh Quraisy itu, Nabi tidak memperhatikan kata-kata Abdullah. Bahkan Muhammad memalingkan wajah, fokus mengarah kepada Abu Jahal dan para tokoh Quraisy lain. 

Dalam Tafsir Al-Maraghi (Juz 30, halaman 70) oleh Musthafa al-Maraghi, disebutkan bahwa hal ini cukup masuk akal. Sebab, jika Muhammad bisa meyakinkan banyak pembesar Quraisy, tentu saja kedudukan dan keamanannya di Mekkah dalam menyebarkan ajaran Islam terjamin. Ketika dialog selesai, Muhammad pun pulang ke rumah. Namun, dalam perjalanan pulang tersebut tiba-tiba pandangan Muhammad gelap dan kepalanya sangat sakit. 

Kemudian turunlah wahyu yang menjadi awalan surat ‘Abasa—yang masuk sebagai Surat Makiyyah dan menjadi bagian dari Juz 30. “(1) Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, (2) karena telah datang seseorang yang buta kepadanya. (3) Tahukan engkau barangkali dia (Abdullah) ingin membersihkan dirinya dari dosa? (4) atau pelajaran, lalu dari pelajaran tersebut dapat memberi manfaat kepadanya?" Rangkaian wahyu pada ayat ke-10 berbunyi fa-anta ‘anhu talahha: Maka kamu mengabaikannya.


Manusia Biasa

Sesungguhnya Muhammad adalah manusia biasa. Ia bukanlah malaikat. Akan tetapi, Muhammad adalah manusia yang ma’?hum, yakni dilindungi oleh Allah dari kesalahan dan dosa. Muhammad merupakan pribadi yang sangat menjauhi segala perilaku buruk. Keteladanan Muhammad betul-betul terwujud dalam sikap keseharian beliau sebagai perilaku yang membahagiakan orang lain.

Kepribadian yang dimiliki oleh Muhammad adalah kepribadian yang paling sempurna dalam segala hal--jauh dari segala kekurangan dan keburukan. Seperti dikatakan Allah dalam Alquran Surat Al-Ahzab: 21.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Akan tetapi, meskipun Allah menyebutkan bahwa Muhammad merupakan pribadi terbaik, namun Ia juga pernah menegur Muhammad. Teguran tersebut sebenarnya merupakan bimbingan Allah terhadap pribadi Muhammad. Ayat-ayat teguran Allah kepada Muhammad tersebut terdapat dalam beberapa surat yang masing-masing berbeda konteks, antara lain terdapat dalam QS. ‘Abasa: 1-12, QS. Al-Qiyamah: 16-19, QS. Al-Kahf: 23-24, QS. Al-Anfal: 67-69, QS. At-Taubah: 43, 84, dan 113, QS. Ali Imran: 128, dan QS. At-Tahrim: 1-2.

Beberapa teguran Allah itu merupakan akibat sikap dan ucapan Muhammad yang dinilai-Nya sebagai hal yang kurang tepat lahir dari seseorang yang dijadikan teladan oleh Allah. Salah satu ayat yang bersifat teguran terhadap Muhammd adalah sebagaimana terdapat dalam QS. Ali Imran: 128

“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.”

Tafsir Ibu Katsir

Mengacu pada pendapat Abdullah bin Muhammad bin Abdul Rahman bin Ishaq Alu Syaikh dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini bermaksud “Engkau tidak mempunyai sedikit pun keputusan dalam urusan hamba-hamba-Ku, kecuali apa yang telah Aku perintahkan kepadamu terhadap mereka.”

Hadis berikut ini menunjukkan sebab-sebab turunnya ayat tersebut. “Telah menceritakan kepada kami ?ibban Ibn Musa, telah menceritakan kepada kami Abdulla?, telah menceritakan kepada kami Mu?ammar dari Zuhri, ia berkata telah menceritakan kepada saya Salim dari ayahnya, bahwa ia telah mendengar Rasulullah Muhammad apabila telah mengangkat kepalanya dari ruku’ pada rakaat terakhir dari salat fajar, beliau berkata: “ Ya Allah laknatlah si fulan, si fulan dan si fulan”. Lalu beliau mengucapkan, “Sami’allahu liman hamidah rabbana wa lakalhamdu (Allah mendengar bagi siapa yang memujinya, ya Tuhan kami bagi-Mu segala pujian). Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan: “Laisa laka minal amri syai`un hingga fa innahu dhalimun”. (HR. Ishaq).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa Muhammad pernah berdoa setelah rukuk dalam salat fajar, agar Allah melaknat orang-orang musyrik, salah seorang di antara mereka adalah Hind Ibn ‘Utbah Ibn Rabi’ah. Hal tersebut dilakukan beliau karena para sahabat dan pamannya Hamzah Ibn Abdul Muththalib terbunuh pada saat perang Uhud, dan mayatnya diperlakukan dengan sangat tidak wajar. Perut beliau dibelah dan hatinya dikeluarkan untuk dipotong dan dikunyah oleh Hind Ibn ‘Utbah Ibn Rabiah sebagai balas dendam, karena paman Muhammad, yakni Hamzah, telah membunuh ayah Hind yang musyrik dalam Perang Badar.

Karena doa tersebutlah, maka Allah menegur Muhammad.dalam firman-Nya di Surat Ali Imran: 128. Ini merupakan didikan Allah terhadap Muhammad. Allah tidak menghendaki sedikit pun adanya kekurangan pada diri Muhammad.

Nabi Muhammad juga pernah ditegur ketika membicarakan sikap apa yang harus diambil dalam menghadapi para tawanan perang. Hal tersebut terjadi pada Perang Badar. Umar bin Khaththab mengusulkan agar mereka dibunuh. Akan tetapi, Abu Bakar mengusulkan agar mereka dimaafkan atau dibebaskan dengan tebusan. Muhammad memilih usulan ini, sehingga Allah menegurnya dengan firman dalam QS. Al-Anfal: 67-69.

“Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

M. Quraish Shihab mengutip pendapat Al-Biqa’i menjelaskan bahwa sebenarnya sebelum ini sudah ada sekian isyarat agar kaum muslimin mengambil sikap tegas terhadap para pendurhaka. Oleh karena itu sepatutnya kaum muslimin, yakni anggota pasukan Badar itu memilih sikap tegas. Akan tetapi, karena mereka tidak tegas dalam mengambil sikap sehingga Allah menegur mereka, namun disertai dengan menggambarkan pemaafan Allah atas kekeliruan tersebut. Adapun teguran tersebut adalah, “Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.”

Muhammad dilarang oleh Allah mempunyai tawanan, membiarkan para tawanan tersebut tetap hidup dan menerima tebusan dari mereka, kecuali setelah nyata bahwa Muhammad beserta pasukannya berada di pihak yang menang. Karena membiarkan musuh tetap hidup setelah ditawan, sedangkan peperangan masih dalam taraf awal dapat membahayakan negara. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada Muhammad agar membunuh tawanan tersebut untuk menumpas kekuatan musuh.

Memang, Muhammad itu ma'shum. Ia  terjaga dari kesalahan. Boleh dikatakan tak ada dosa dan noda yang melekat padanya. Akan tetapi, ketika dalam konteks tertentu tidak ada wahyu, Muhammad pun ber-ijtihad. Ijtihad Muhammad ternyata pernah keliru dan Allah langsung menegur serta mengoreksinya dengan menurunkan wahyu.  

Gunoto Saparie adalah Fungsionaris ICMI Jateng dan mantan Penyuluh Agama Madya Kanwil Kemenag Jateng




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment