Ketua IPI Jateng Prihatin Kondisi Pemulung di TPA Jatibarang Semarang
BEREBUT RIZKI DENGAN SAPI

By TOHAR TOKASAPU 08 Apr 2021, 22:54:42 WIB PERISTIWA
Ketua IPI Jateng Prihatin Kondisi Pemulung di TPA Jatibarang Semarang

Keterangan Gambar : Pengurus Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Jateng, saat berkunjung ke TPA Jatibarang Semarang


Semarang (beritakita.net) - Guna melihat kondisi anggotanya di lapangan, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Prov Jateng terpilih periode 2021-2025, Nurhadi bersama pengurus lainnya, berkunjung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Jatibarang, Kota Semarang, Rabu (7/4/2021).

Dalam kunjungan itu, selain melihat keadaan pemulung di lapangan, juga untuk sosialisasi keberadaan organisasi IPI Jateng. Nurhadi yang biasa dipanggil Mbah Nur merasa prihatin dengan kondisi pemulung di TPA Jatibarang. 

"Bagaimana mungkin seorang pemulung yang berjasa membantu Pemkot Semarang dalam mengurangi volume sampah di TPA, keadaannya sungguh memprihatinkan dan menyedihkan. Mereka mengais rejeki harus berebutan dengan sapi. Pemulung itu juga manusia yang harus dihargai dan berhak hidup layak seperti lainnnya," ungkap Mbah Nur. 

Baca Lainnya :

Melihat kondisi tersebut, Mbah Nur sebagai orang pertama di organisasi yang mengampu para pemulung sangat meyayangkan Pemkot Semarang. Menurut Mbah Nur, Pemkot Semarang tidak peduli akan nasib para pemulung, terutama yang ada di TPA Jatibarang. 

"Tiap hari mereka bergelut dengan sampah yang notabene sangat rentan dengan penyakit. Namun sedikit pun perhatian dari Pemkot Semarang tidak ada. Ini menjadi catatan penting kami, ke depan setidaknya mereka mendapat jaminan kesehatan," jelas Mbah Nur.

Di sisi lain Mbah Nur juga menyayangkan para pemilik dan penggembala sapi yang membiarkan hewan peliharaannya secara liar di TPA Jatibarang. Mestinya, kata Mbah Nur, hewan tersebut tidak dibiarkan berkeliaraan.

"Dari kunjungan ini, dalam waktu dekat kita akan bertemu dengan pihak-pihak yang terkait. Harapan kita, dengan bertemu sejumlah pihak, terutama pengambil kebijakan di Pemkot Semarang, akan menemui solusi supaya harkat dan martabat pemulung tidak dianggap sebagai sampah," pungkas Mbah Nur.

(HERMAWAN)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment