Komunitas Seni Didorong Bentuk Platform Digital
CLC Purbalingga Kesulitan Regenerasi

By TOHAR TOKASAPU 21 Nov 2020, 19:20:21 WIB SENI BUDAYA
Komunitas Seni Didorong Bentuk Platform Digital

Purbalingga (beritakita.net) - Komunitas seni budaya di daerah didorong untuk membentuk ekosistem kolaborasi melalui platform digital. Hal ini bertujuan untuk menggerakkan industri kreatif. Hal itu dikatakan Kepala Pokja Media Baru dan Arsip Direktorat Film, Musik dan Media Baru, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI, Tubagus Sukmana.

Menurut Tubagus, pihaknya ingin membangun interkoneksi berupa platform kerjasama di bidang musik dan media baru. Hal itu dapat terwujud dengan peran dari seniman, pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Dikatakan Tubagus, pelaku seni budaya membutuhkan interkoneksi, ruang kolaborasi atau basecamp lalu membentuk platform digital. 

“Konten-kontennya akan diisi dari hasil kolaborasi antar kelompok seni, tidak berjalan sendiri. Purbalingga ini sudah punya Misbar, dan menjadi ruang untuk kolaborasi itu," jelas Tubagus, dalam observasi dan diskusi ‘Membangun Platform Kerjasama, Interkoneksi dan Distribusi Film’ di Bioskop Misbar Purbalingga, Usman Janatin City Park, Jumat (20/11) malam.

Baca Lainnya :

Film yang digarap oleh komunitas daerah, kata Tubagus, perlu memperluas akses penonton. Sebab, tidak semua karya komunitas ini bisa mengakses bioskop yang hanya tersedia di kota besar. Oleh karena itu, tandas Tubagus, platform kerjasama antar pelaku seni dan kelembagaan akan mempermudah distribusi karya.

“Pembentukan platform ini harus didahului dengan penyediaan ruang kolaborasi yang dapat difasilitasi oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Contohnya, CLC Purbalingga yang sudah menunjukkan eksistensinya selama 14 tahun. Komunitas film ini bisa menjadi ruang kolaboratif untuk menopang kelompok seni lainnya," tandas Tubagus.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purbalingga, Setiyadi menyatakan, Pemkab Purbalingga sangat memberikan perhatian khusus bagi pelestarian dan pengembangan kesenian di wilayahnya. Salah satunya melalui fasilitasi pendanaan maupun kegiatan.

"Pemerintah daerah bukan Sinterklas. Saking banyaknya yang harus disentuh kami punya prioritas, seperti revitalisasi seni yang hampir punah seperti krumpyung, cengklung dan braen serta seni yang berkualitas secara artistiknya. Pada tahun 2020, dana dari APBD untuk bidang kesenian mencapai hampir Rp 6 miliar. Namun, karena pandemi, anggaran terpaksa dipangkas hingga tersisa sepertiganya,” ungkap Setiyadi.

Direktur CLC Purbalingga, Bowo Leksono mengatakan, embrio ruang kolaborasi antar seniman di Purbalingga sebetulnya sudah muncul. Film, saat ini menjadi lokomotif utama dalam industri kreatif ini. Pihaknya sudah merasakan, film itu menjadi lokomotif industri kreatif. 

“Kami mulai dari pendokumentasian seni tradisi, beberapa dibuat fiksi. Jadi database, kalau orang yang ingin tahu tentang seni, bisa bertanya kepada kami. Setiap tahun CLC Purbalingga, memiliki 6 program rutin. Mulai dari produksi film, workshop, pemutaran, perpustakaan film, distribusi dan festival film. Namun, komunitas ini masih kesulitan dalam hal regenerasi,” kata Bowo. (Mulianowo)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment