KSBN Beri Masukan Soal Moderasi Beragama dalam Perspektif Budaya
Peserta Sepakat Galakkan Semangat Moderasi Beragama

By ROBINSON SIMARMATA 17 Nov 2020, 16:20:13 WIB SENI BUDAYA
KSBN Beri Masukan Soal Moderasi Beragama dalam Perspektif Budaya

Keterangan Gambar : Wakil Sekretaris KSBN Jateng Agnes Purwanto saat memberikan masukan dalam FGD tentang Pembuatan Instrumen Moderasi Beragama yang diadakan UIN Walisongo.


Semarang (beritakita.net) - Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Jawa Tengah berperan aktif dalam Focus Group Discussion tentang Pembuatan Instrumen Beragama. Kegiatan yang diselenggarakan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, itu digelar di Hotel Grandhika, Semarang, Selasa, 17 November 2020. 

Pada kesempatan itu KSBN Jateng mengirimkan delegasi lima orang pengurus. Mereka adalah Gunoto Saparie, Agus Susantijono, Agnes Purwanto, Prastiti KA, dan Yamtini HP. Ketua III KSBN Jateng Gunoto mengatakan, selain KSBN Jateng, FGD juga diikuti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng dan Kota Semarang serta para anggota Tim Rumah Moderasi Beragama UIN Walisongo. 

“Kegiatan dibuka Wakil Rektor I UIN Walisongo M. Mukhsin Jamil setelah Ketua Rumah Moderasi Beragama Imam Yahya menyampaikan laporannya,” tandas Gunoto seraya menambahkan, dalam FGD dibentuk lima kelompok diskusi. Kelompok pertama diketuai Imam Yahya membahas tentang karikatur Nabi Muhammad di Prancis. 

Baca Lainnya :

Kelompok kedua dipimpin Ahmad Mutohar membicarakan mengenai Revolusi Akhlak. Kelompok ketiga dipimpin Sahidin mendiskusikan soal kemenangan Joe Biden dalam Pemilihan Presiden AS. Kelompok keempat diketuai Ruswan membahas tentang Sudan yang berubah menjadi sekuler. Sedangkan kelompok kelima dipimpin Karnadi membahas tentang mengenai wabah Covid-19.

“Semua kelompok mendiskusikan masing-masing isu dalam kaitannya dengan sikap dan perilaku moderasi beragama di Indonesia,” kata Gunoto. Penyair kelahiran Kendal itu menambahkan, jika delegasi KSBN Jateng banyak memberikan gagasan dan saran moderasi beragama dalam perspektif kebudayaan.

Menurut Gunoto, lima kelompok diskusi melakukan identifikasi permasalahan dan menentukan poin-poin permasalahan yang terdapat di dalam masing-masing kasus. Mereka kemudian membawa hasil diskusi kelompok masing-masing ke sidang pleno untuk mendapatkan masukan dan tanggapan dari seluruh peserta.

“Pada intinya seluruh peserta sepakat untuk terus menggalakkan semangat moderasi beragama ke seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda. Apalagi hari-hari ini kecenderungan radikalisme dan intoleransi di bidang agama maupun kebudayaan meningkat. Kalau hal ini dibiarkan tentu akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,” pungkas Guntoto. (GS/TTS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment