Lazismu dan PWI Jateng Gelar Sekolah Amil Jurnalistik Filantropi
Indonesia Negara Paling Dermawan

By TOHAR TOKASAPU 30 Nov 2020, 19:39:31 WIB PENDIDIKAN
Lazismu dan PWI Jateng Gelar Sekolah Amil Jurnalistik Filantropi

Keterangan Gambar : Ketua PWI Jateng Amir Machmud memeparkan pentingnya jurnalisme filantropi untuk menggali potensi dana umat.



Semarang (beritakita.net) - Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah (Lazismu) Jateng menggandeng PWI Jateng menggelar Sekolah Amil Jusrnalistik Filantropi. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu dibuka Sekretaris Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng, Drs H Wahyudi, Senin (30/11/2020), di kampus Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).

Sekretaris PWM Jateng, Wahyudi menyatakan, peran jurnalis diharapkan mampu menyampaikan informasi yang jujur, tidak membuat isu yang meresahkan masyarakat dan membuat fitnah. Dalam konteks agama, lanjut Wahyudi, sabar memiliki potensi yang luar biasa. Maka kadang banyak orang menafsirkan bahasa Jawa salah mengartikan jargon tersebut. 

Baca Lainnya :

“Misalnya alon-alon waton kelakon, bukan bekerja santai, tetapi harus ada target yang matang untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu kader-kader Lazismu yang mengikuti Sekolah Amil Jurnalistik Filantropi harus memaknai jargon bahasa Jawa secara benar. Alon-alon waton kelakon harus diartikan bukan santai dalam pengembangan perolehan menghimpun zakat,'' kata Wahyudi.

Ketua Lazismu Jateng, H Dodok Sartono SE MM mengatakan, menurut riset tahun 2018, Indonesia merupakan negara paling dermawan di dunia. Pihaknya yakin, salah satunya peran utama adalah media. Oleh karenanya salah satu skill yang harus dikuasai amil adalah membangun gerakan media untuk filantropi.

Maka melalui media ini menjadi langkah strategis, bagaimana gerakan penyantunan ini tidak sekadar melaksanakan tugas keagamaan, tetapi harapan masa depan. Apalagi sekarang banyak media yang sangat beragam, baik online atau cetak sehingga akan menambah dinamika untuk menyampaikan informasi tentang Lazismu kepada masyarakat.

“Saya pernah bekerja di filantropi. Salah satunya mendapat tugas membuat tulisan yang menyentuh perasaan. Kalau tulisan tidak membuat orang menangis, dianggap belum lulus. Jadi tulisan itu harus membuat orang berempati. Maka melalui sekolah ini, para amil nantinya diharapkan bisa membuat berita tentang Lazismu dengan soft news, sehingga orang tergerak untuk peduli,” tandas Dodok.

Target filantropi, tambah Dodok, adalah anak-anak muda yang mulai dengan pembayaran nontunai. Saat ini 90 persen penghimpunan filantropi menggunakan media online secara nontunai. Oleh karena itu Lazismu harus berubah, tidak hanya mengandalkan ritel door to door manual, karena target market filantropi adalah pembayaran nontunai, maka amil harus mampu memanfaatkan media online.

''Melalui Jurnalistik Filantropi diharapkan Lazismu Jateng menjadi barometer di Indonesia. Karena untuk saat ini penghimpunan Lazismu mencapai Rp 70 miliar per tahun,''ungkap Dodok.  


Pentingnya Posisi Media

Ketua PWI Jateng, Amir Machmud NS SH menambahkan, saat ini ada pengakuan tentang pentingnya posisi media. Terutama pada tema-tema jurnalisme filantropi untuk menggali potensi dana umat. Untuk mengetahui sejauh mana memahami media filantropi, bukan saja untuk amil Lazismu, tetapi juga untuk bangsa Indonesia secara keseluruhan. 

“PWI Jateng telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Jateng, tidak lain ingin menebarkan virus maslahat dunia kewartawanan, sebagai hal yang bisa menjiwai dalam kehidupan kita. Tugas-tugas kewartawanan itu antara lain bagaimana kita menyeimbangkan keadilan, bagaimana kita menjalankan tugas kemanusiaan,'' kata Amir Machmud.

Wakil Rektor II Unimus Dr Hadi Winoto mengatakan, tidak asing dengan dunia jurnalistik. Pernah menjadi kontributor, hingga sampai kuliah. Meski kuliah di akuntansi, tetapi ada benang merahnya. Jurnal dalam keuangan adalah catatan harian keuangan yang harus diinfokan. Ternyata, kata Hadi, kalau dihububungkan dengan ilmu jurnalistik hampir sama. Sama-sama menyajikan jurnal harian.

''Kebetulan saya mendampingi salah satu calon peserta pilkada. Maka melantropi di bidang politik juga ada. Saya pernah berbicara dengan teman, mbok ada urunan untuk calon peserta yang didukung. Namun istilah urunan itu kok nggak pada dong. Maka istilah urunan ini bagi penghimpunan Lazismu harus diupayakan sebagai kantong menghimpun penerimaan zakat,'' kata Hadi Winoto.

Untuk pengembangan Lazismu, tambah Hadi, para kader amil diharapkan legawa sebagai pejuang menghimpun zakat. Maka kader Lazismu harus mendekati tokoh yang kompeten untuk sowan yang bisa memberi kepercayaan demi pengembangan penghimpunan zakat. Lazismu, kata hadi, juga harus mendekati media, kalau sekarang banyak online, maka harus diberdayakan ke media online. (TTS)





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment