Memuliakan Lingkungan Hidup
Oleh Gunoto Saparie

By TOHAR TOKASAPU 17 Des 2020, 22:49:17 WIB KAJIAN AGAMA
Memuliakan Lingkungan Hidup


Musibah banjir dan tanah longsor terjadi di mana-mana, apalagi di musim penghujan hari-hari ini. Akan tetapi, setiap bencana itu terjadi, mengapakah orang sering menyebut bahwa hal itu karena Tuhan sedang marah besar dan memberikan hukuman? Orang lupa bahwa hal itu sesungguhnya merupakan ulah dan perilaku manusia sendiri yang tidak memuliakan lingkungan hidup. 

Hutan lindung yang menyerap air, menahan banjir, dan melindungi flora dan fauna di dalamnya, kini makin berkurang tiap tahun. Padahal sebagian kehidupan manusia sesungguhnya sangat tergantung pada keberadaannya. Hutan lindung yang menjadi paru-paru dunia kini berada dalam bahaya. 

Baca Lainnya :

Dengan rusaknya hutan lindung, manusia tinggal menunggu bencana yang akan menimpa di masa depan. Bencana yang dipicu oleh deforestasi atau kerusakan hutan. Hutan yang dulu menjadi sumber kehidupan kini justu menjadi sumber malapetaka. Hampir semua ekosistem terancam oleh kerusakan dan degradasi yang disebabkan oleh ulah manusia.

Demikian pula perubahan iklim yang dipicu oleh pemanasan global di mana mengakibatkan bumi semakin panas. Bumi yang berubah menjadi tempat yang tidak nyaman lagi untuk hidup. Perubahan iklim terjadi ketika ada perubahan dari pola iklim lama ke pola iklim baru yang berlaku untuk jangka waktu lama. Akibatnya terjadilah pergeseran musim. Para petani pun harus menanggung akibatnya.

Soedjatmoko pernah mengatakan bahwa perang nuklir bukan satu-satunya bahaya pemusnahan umat manusia dan alam, namun masih ada unsur-unsur lain yang tidak kalah pentingnya, seperti krisis lingkungan hidup akibat pencemaran industri. E. Golsmith dan Dennis L. Mesdows pun pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar bagi umat manusia di masa depan adalah rusaknya lingkungan hidup yang sangat cepat. 

Karena itulah, lingkungan hidup harus mendapat perhatian dan penanganan secara terpadu, baik dalam pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan maupun pengembangannya. Pengelolaan secara terpadu ini mempertimbangkan kesatuan ekosistem di dalam unsur-unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. 


Diperintah Tuhan

Manusia, sebagai makhluk paling mulia dan diberi akal, diperintah Tuhan untuk mengelola bumi ini agar tetap dalam keseimbangan dan dilarang merusaknya. Manusia diberi tanggung jawab yang berat untuk memelihara, melindungi, dan memanfaatkannya secara baik. Manusia harus mampu mengendalikan nafsunya, sehingga tidak terjadi kerusakan dalam menggali dan memanfaatkan sumber daya alam yang disediakan Tuhan.

Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya. Lingkungan hidup merupakan dukungan terhadap kehidupan dan kesejahteraan. Bukan saja terhadap manusia, tetapi juga makhluk hidup lain, seperti hewan dan tumbuhan. 

Seluruh isi alam diperuntukkan bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia, sehingga tumbuhan dan hewan yang mendukung dua hal itu harus tetap terjaga fungsinya sebagai pendukung kehidupan. Hal ini karena lingkungan memiliki hubungan yang sangat banyak dengan penghuni, banyak interaksi dan korelasinya. 

Pengelolaan lingkungan hidup harus dilaksanakan setepat mungkin. Kita harus dapat menghindarkan perusakan terhadap lingkungan hidup. Kita harus dapat mempertahankan produktivitas dan menjaga kelestarian lingkungan hidup, demi generasi mendatang. Bukankah generasi penerus kita akan mewarisi lingkungan hidup beserta aneka sumber dayanya?

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Alquran, Surat Al-Baqarah ayat 164).

Pemanfaatan dan peningkatan kualitas lingkungan hidup merupakan amanat yang dibebankan kepada manusia. Allah telah menciptakan manusia dari tanah dan menjadikan manusia sebagai pemakmurnya. Kemakmuran yang mencakup segala bidang, termasuk menegakkan masyarakat insani yang sehat dan membina peradaban manusia yang menyeluruh. Ini berarti, mencakup semua segi kehidupan, sehingga dapat mewujudkan keadilan hukum ilahi di bumi tanpa paksaan dan kekerasan, namun dengan pelajaran dan kesadaran sendiri.

Manusia adalah khalifah Tuhan yang diperintahkan untuk mengurus segala sesuatu yang ada di bumi ini. Tuhan memberikan kekuasaan penuh kepada untuk memakmurkan bumi dan berbuat baik di permukaannya. Manusia diciptakan bukan untuk membinasakan atau merusak lingkungan hidup.  Bukankah Tuhan menciptakan manusia semata-mata hanya untuk mengabdi atau beribadah? Oleh karena itu, meskipun manusia ditetapkan Allah dalam posisi dan derajat yang lebih tinggi dari makhluk lainnya, tetapi bukan berarti mereka memiliki kekuasaan tanpa batas terhadap alam dan isinya. 


Milik Tuhan

Kita tahu, seluruh alam semesta ini adalah milik Tuhan (Surat Al-Baqarah ayat 284). Kita pun ingat, manusia diberi izin tinggal di dalamnya untuk sementara dalam rangka memenuhi tujuan yang telah direncanakan dan ditetapkan Tuhan (Surat Al-Ahqaf ayat 3). Ini berarti, alam semesta ini bukanlah milik hakiki manusia. Kepemilikan manusia hanyalah amanat. 

Ia hanyalah titipan atas pinjaman yang pada saatnya harus dikembalikan dalam keadaannya seperti semula, bahkan dalam keadaan yang lebih baik dari ketika dia menerimanya. Titipan yang dikembalikan tersebut selanjutnya akan didistribusikan kembali bagi orang atau generasi sesudahnya sampai hari kiamat.

Oleh karena itu, Tuhan tidak menyukai, bahkan mengecam manusia yang merusak alam. Tihan sangat tidak menyukai orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi (Surat Al-Baqarah ayat 60, 205; Al-A’raf ayat 56, 85; Al-Qashash ayat 88; As-Syuara ayat 183). 

Tindakan merusak alam merupakan bentuk kezaliman dan kebodohan manusia. Bukankah kebinasaan umat manisoa terdahulu akibat tindakan merusak alam? Merusak lingkungan hidup selain merugikan manusia dan makhluk hidup lainnya juga merupakan perbuatan dosa.

Sebagai orang Jawa kita tentu ingat konsep Sri Sultan Hamengku Buwana I tentang pelestarian lingkungan melalui filosofi hamemayu hayuning bawana. Filosofi ini memiliki dimensi universal dan kondusif bagi upaya-upaya pelestarian lingkungan. Konsep tersebut dapat diartikan sebagai nilai-nilai yang menjamin keselamatan lestari yang berkelanjutan.

Lingkungan hidup merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia. Lingkungan hidup harus dipandang sebagai salah satu komponen ekosistem yang memiliki nilai untuk dihormati, dihargai, dan tidak disakiti, Setiap perilaku manusia dapat berpengaruh terhadap lingkungan hidup. Kalau perilakunya positif tentu saja mengakibatkan lingkungan hidup tetap lestari. Akan tetapi, kalau perilakunya negatif akan mengkibatkan kerusakan lingkungan hidup. Padahal manusia memiliki tanggung jawab untuk berperilaku baik dengan kehidupan di sekitarnya. 

Manusia dan lingkungan memiliki hubungan relasi yang sangat erat. Tuhan menciptakan alam ini termasuk di dalamnya manusia dan lingkungan dalam keseimbangan dan keserasian. Keseimbangan dan keserasian ini harus dijaga, agar tidak mengalami kerusakan. 

Kelangsusungan kehidupan di alam ini pun saling terkait yang jika salah satu komponen mengalami gangguan luar biasa maka akan berpengaruh terhadap komponen lain.

Menjaga lingkungan hidup merupakan impelementasi kepatuhan kepada Tuhan. Hal ini karena menjaga lingkungan ahidup dalah bagian dari amanat manusia sebagai khalifah. Dalam ilmu fikih menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan berstaus hukum wajib karena perintahnya jelas, baik dalam Alquran maupun Alhadis. 

Lingkungan hidup merupakan tempat tinggal dan tempat hidup makhluk hidup. Lingkungan alam telah didesain sedemikian rupa oleh Allah dengan keseimbangan dan keserasiaanya serta saling keterkaitan satu sama lain. Kalau sampai terjadi ketidakseimbangan atau kerusakan yang dilakukan manusia, tentu akan menimbulkan bencana yang bukan hanya akan menimpa manusia itu sendiri tetapi semua makhluk yang tinggal dan hidup di tempat tersebut. 

*Gunoto Saparie adalah Fungsionaris ICMI Jateng dan mantan Penyuluh Agama Madya Kanwil Kemenag Jateng





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment