Mengapa Ada Hadis-Hadis Saling Bertentangan?
Oleh Gunoto Saparie

By TOHAR TOKASAPU 25 Des 2020, 00:32:04 WIB KAJIAN AGAMA
Mengapa Ada Hadis-Hadis Saling Bertentangan?

Sebagai salah satu sumber ajaran Islam, Alhadis yang berstatus sahîh secara prinsip tidak mungkin bertentangan dengan dalîl lain, baik dengan sesama hadis, Alquran, maupun rasio. Prinsip kesesuaian ini dikenal dengan istilah muwafaqat sarîh al ma‘qul li sahîh al manqul. 

Akan tetapi, dalam praktik mencari makna bagi suatu hadis sering dijumpai hadis lain yang tidak selamanya relevan atau ada korelasi maknawî dengan hadis yang menjadi sasaran utama objek kajian. Kesan berlawanan (ta‘arud) dan berbeda (ikhtilâf) merupakan temuan rutin dalam pengkajian hadis yang telah melewati proses takhrîj al-hadîts (koleksi data hadis) dan juga ‘itibar al-hadîts (pengecekan berita).

Sejarah perkembangan Alhadis memaang jauh berbeda dengan sejarah perkembangan Alquran. Alquran secara keseluruhan terpelihara dengan baik karena diriwayatkan melalui perawi mutawatir, baik lisan maupun tulisan. Sedangkan Alhadis hanya sedikit yang diriwayatkan secara mutawatir, sebagian besarnya melalui periwayatan ahad. Untuk menjaga keautentikan Alhadis, para ulama melakukan berbagai kajian di bidang sanad dan matan, sehingga menghasilkan pengetahuan yang disebut Ilmu Hadis.

Baca Lainnya :

Hadis yang saling kontradiksi harus tergolong hadis yang maqbul. Ini berarti, hadis-hadis yang mardud tidak tergolong dalam diskursus mukhtalaf al-hadîts. Hal ini karena upaya untuk menghilangkan hadis-hadis yang kontradiktif dengan berbagai macam metode hanya berlaku pada hadis yang jelas-jelas bersumber dari Nabi Muhammad dan tergolong hadis yang maqbûl.  Di samping itu, kontradiksi yang terjadi sebatas pada arti tekstualnya (al-ma‘na al-zahir), bukan makna kontektual. 

Masing-masing hadis yang saling kontradiksi bisa dijadikan hujjah bagi penetapan sebuah hukum, sekalipun tidak sederajat keauntetikannya. Sangat mungkin dilakukan kompromi (al-jam‘) atau pengunggulan terhadap salah satu hadis yang saling kontradiksi (al-tarjîh). Hukum yang ditetapkan oleh hadis yang kontradiksi tersebut saling berlawanan (berbeda), seperti halal dan haram, wajib dengan tidak wajib, menetapkan dengan meniadakan. Alasan ini muncul karena bila tidak saling berlawanan, maka tidak ada pertentangan. 

Timbul Kontradiksi

Namun, mengapa sampai timbul kontradiksi antar dua hadis atau lebih?

Pertama, adanya keragaman konteks yang melatarbelakangi terjadinya suatu perbuatan Nabi Muhammad, di mana kemudian diceritakan oleh seorang sahabat dalam dua kali periwayatan atau lebih dengan versi yang berbeda. Kedua, Nabi Muhammad melakukan suatu perbuatan dalam berbagai macam model. Kemudian seorang sahabat menceritakan model perbuatan Nabi Muhammad yang disaksikan dalam kondisi yang pertama, sedangkan sahabat yang lain menceritakan model perbuatan Nabi Muhammad yang juga ia saksikan pada kondisi yang kedua begitu seterusnya. 

Ketiga, terjadi perbedaan para sahabat dalam menceritakan apa yang ia saksikan dari Nabi. Muhammad. Sebagaimana nâsikh tentang pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, apakah termasuk haji qiran, ifrad, atau tamattu‘. Keempat, ada perbedaan para sahabat dalam melakukan interpretasi terhadap sabda Nabi Muhammad. 

Sedangkan kelima, adanya seorang sahabat yang mendengar sebuah hukum baru dari Nabi Muhammad yang kapasitasnya menghapus (nasikh) pada hukum yang telah ada, sedangkan seorang sahabat lainnya tidak mendengar yang nasikh dan tetap berpegang teguh dalam meriwayatkan hadis pertama yang ia dengar.

Memang, terjadinya ikhtilaf dalam ranah ijtihad para ulama merupakan suatu keniscayaan. Hal itu sebenarnya tidak lagi menjadi sesuatu yang tabu, terutama di kalangan mereka yang bergelut dalam bidang ilmu syariah. Hal itu merupakan konsekuensi logis sebagai implementasi dari praktek ijtihad. Bukankah ijtihad berangkat dari pemahaman seorang ulama terhadap suatu dalil, di mana tingkat pemahaman seseorang dengan yang lainnya berlainan?.

Dalam proses ijtihad, kita tahu, melibatkan pemahaman seorang ulama terhadap suatu dalil, baik dari Alquran maupun Alhadis. Alquran dan Alhadis itu menjadi masukan dalam suatu proses ijtihad, di mana kemudian ditarik suatu kesimpulan hukum yang merupakan keluaran dari proses tersebut. Akan tetapi, keluaran yang dihasilkan seringkali berbeda antara satu ijtihad dengan ijtihad yang lain. Hal ini tergantung bagaimana cara mengolah masukannya itu.

Cara mengolah masukan inilah yang seringkali menjadi faktor timbulnya perbedaan hukum dalam suatu masalah. Termasuk ketika ada suatu masukan berupa Alhadis atau atsar, di mana ada dua hadis atau atsar yang berkaitan dengan suatu masalah, tetapi keduanya memiliki kontradiksi makna secara lahir. 

Padahal Alhadis merupakan sabda Nabi Muhammad dan ia menjadi salah satu sumber hukum (mashdar al-tasyri’) dalam agama Islam, di mana tidak mungkin terjadi kontradiksi di dalamnya. Seperti dikatakan Ibnu Khuzaimah, “Aku tidak pernah mengetahui ada dua hadits yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad, dengan sanad yang sama-sama sahih namun maknanya saling bertentangan. Oleh karena itu, kalau ada orang yang mengetahuinya, berikanlah kepadaku niscaya akan aku padukan keduanya.”


Bisa Bingung

Tentu saja seseorang, terutama yang awam, bisa bingung ketika ada hadis-hadis yang saling bertentangan. Misalnya, ada hadis tentang larangan melakukan ziarah kubur bagi perempuan. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad melaknat perempuan yang berziarah kubur.

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Muhammad melaknat perempuan yang berziarah kubur.” Hadits tersebut diriwayatkan dalam Sunan An-Nasa’i dan Sunan Abu Dawud melalui sahabat Abdullah bin Abbas. Selain itu ada pula riwayat lain dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam at Tirmidzi dan beberapa ulama lainnya. 

Jika hanya membaca riwayat hadis tersebut, seseorang bisa sampai kepada kesimpulan bahwa ziarah kubur itu terlarang bagi perempuan. Padahal terkait larangan ziarah kubur bagi perempuan itu, banyak hadis yang justru menyatakan kebolehannya.

“Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah. Bersabda: Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena ia dapat mengingatkan akan kematian.” 

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam al Hakim. Hadis ini menyatakan kebolehan ziarah kubur, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Padahal sebelumnya Nabi Muhammad menyebutkan pernah melarang, namun sekarang justru sudah dibolehkan. Dari kedua hadits tersebut, para ulama menyimpulkannya sebagai hadis yang shahih, sehingga bisa menjadi dasar hukum. 

Bagaimanakah cara kita menyikapi kalau ada hadis-hadis yang bertentangan seperti itu? Para ahli hadis menyebutkan bahwa cara memahami hadis-hadis tersebut adalah dengan ilmu mukhtalaful hadits, atau ilmu tentang hadits-hadits yang saling bertentangan.

Kalau kita mengacu pada Ikhtilaful Hadits karya Imam as-Syafi’i dan Ta’wil Mukhtalafil Hadits karya Imam Ibnu Qutaibah, ada beberapa cara untuk mengurai hadis-hadis bertentangan itu. Pertama, mengumpulkan riwayat (al-jam’u). Langkah ini diupayakan untuk bisa mengurai masalah perbedaan lafal yang ada, apalagi riwayat-riwayat yang bertentangan ini status hukumnya termasuk hadis yang sahih. 

Suatu hadis akan dikaji dan dibandingkan satu sama lain, baik dari segi kebahasaan maupun kaitannya dengan hadis lainnya. Saat mempelajari hadis, kita sebaiknya tidak berkesimpulan dulu sebelum menemukan hadits lain yang ternyata memberikan riwayat lain di mana memiliki maksud berbeda dari hadis tersebut.

Kedua, mengetahui kemungkinan nasikh dan mansukh dari suatu hadis. Menurut ulama, semisal larangan Nabi Muhammad terkait satu hal bisa dibolehkan jika ada keterangan baru yang menyebutkan kebolehannya. Oleh sebagian ulama, hadis tentang larangan ziarah kubur di atas termasuk dalam nasikh dan mansukh. Selain melalui pernyataan Nabi Muhammad sendiri, keterangan nasikh dan mansukh ini bisa diketahui dari keterangan sahabat, catatan sejarah, atau ijma’ ulama terkait hal itu. 

Ketiga, melakukan tarjih riwayat hadis. Ini berarti, terhadap hadis-hadis yang bertentangan, diupayakan untuk membandingkan tingkat kesahihan, atau membandingkan riwayat satu dengan yang lain dalam lafalnya. Tentu saja hal ini dalam tingkatan yang dilakukan para ahli hadis sangat mumpuni. 

Kalau para ulama tidak menemukan jalan keluar dari tiga metode tersebut, mereka dapat mengambil sikap untuk tidak memberikan kesimpulan terlebih dulu, atau tawaqquf, sampai ada keterangan lebih lanjut dari orang yang sudah meneliti pertentangan tersebut. Meskipun hal ini sesungguhnya jarang terjadi. Para ulama telah mengajarkan bahwa dalam mempelajari agama, tidak bisa hanya mengandalkan informasi tunggal yang tidak dicermati secara sungguh-sungguh.

Demikianlah, tidak sedikit hadis yang memuat berbagai persoalan pelik dan sulit dipahami. Kepelikan dan kesulitan tersebut tidak hanya secara nalar, namun juga persoalan yang saling bertentangan antara satu hadis dengan hadis lainnya. Padahal pengaruh keberadaan hadis-hadis saling bertengtangan satu dengan lainnya itu akan mengakibatkan pada kesimpulan hukum yang pincang.

Menurut Imam Syafii, dua hadis tidak dapat disebut ikhtilâf (bertengangan) selama ada sisi yang memungkinkan kandungan keduanya dapat berlaku. Sedangkan menurut Ibn Hajar, hadîs maqbul yang tidak bertengangan dengan hadis lainnya maka dapat dijadikan hujjah. Akan tetapi, kalau bertentangan dengan hadîs maqbul lainnya dan ada peluang untuk dikompromikan keduannya maka ia disebut mukhtalif al-hadîts. 

Pertentangan antara satu hadis dengan lainnya pada umumnya dilatarbelakangi oleh kesalahan periwayat. Misalnya, kesalahan hafalan dan periwayatan atau keterbatasan pemahaman terhadap hadis-hadis terkait. Pertentangan antara hadis-hadis tersebut terjadi dalam satu konteks permasalahan. Oleh karena itu, kalau hal tersebut terjadi dalam konteks yang berbeda, maka tidak disebut sebagai hadis yang bertentangan. (*)

Gunoto Saparie adalah Fungsionaris ICMI Jateng dan mantan Penyuluh Agama Madya Kanwil Kemenag Jateng





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment