Mengembangkan Teologi Inklusif
Oleh Gunoto Saparie

By TOHAR TOKASAPU 22 Jan 2021, 09:07:49 WIB KAJIAN AGAMA
Mengembangkan Teologi Inklusif


Ada fenomena yang sangat memprihatinkan. Hari-hari ini banyak kaum muslimin tidak lagi melaksanakan dengan baik teologi inklusifnya. Padahal Islam membawa misi rahmat bagi seluruh alam. Mengapa kini sebagian kaum muslimin justru memahami Islam sebagai ajaran yang bersifat doktrinal, eksklusif, dan berseberangan dengan budaya dan kearifan lokal?

Kita tahu, agama Islam diyakini oleh kaum muslimin sebagai ajaran universal. Keuniversalan Islam tersebut didasarkan pada pernyataan Alquran bahwa Risalah Muhammad. tidak hanya diperuntukkan pada suatu kaum di suatu masa, tetapi berlaku untuk seluruh alam, termasuk seluruh umat manusia dari berbagai ras dan bangsa. Hal ini berbeda dengan risalah yang diturunkan kepada para rasul sebelumnya.

Baca Lainnya :

Allah bersabda: “Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk seluruh umat manusia, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan” (QS Saba/34: 28). “Tidaklah Kami (Allah) mengutusmu (Muhammad), melainkan sebagai (pembawa) rahmat bagi semesta alam” (QS Al-Anbiya/21: 107).

Islam inklusif adalah Islam yang bersifat terbuka. Tidak hanya dalam masalah berdakwah atau hukum, namun juga masalah ketauhidan, sosial, tradisi, dan pendidikan. Seorang muslim diharapkan menyadari adanya nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang juga ditawarkan dan diajarkan agama lain. Ia harus yakin bahwa agama yang dipeluknya adalah yang paling benar di seluruh alam raya, namun dalam keseharian ia tidak menunjukkan sikap “sok benar” atau “mau menang sendiri”. Hal ini terutama dalam konteks pergaulan sesame manusia yang dalam Islam dikenal sebagai hablun minannas.

Islam inklusif tidak berarti semua ajaran dari agama lain dimasukkan ke dalam ajaran Islam, tetapi ini adalah jalan umat Islam untuk menuju suatu agama yang disebut sebagai rahmatan lil ‘alamin. Islam Inklusif muncul tanpa menghapus nilai kebenaran atau nilai-nilai yang terkandung dalam agama lain. Islam inklusif juga menunjukkan bahwa tidak ada penyeragaman dan paksaan terhadap agama lain, entah dari segi keyakinan ataupun cara beribadat mereka. Islam Inklusif juga mengakui adanya toleransi mengenai budaya, adat, dan seni, yang menjadi kebiasaan masyarakat.

Islam inklusif mengakui adanya pluralitas, mampu meminimalisasi konflik antarumat. Dengan adanya Islam inklusif setidaknya kita mampu berbaur, hidup rukun dan damai dengan umat agama lain. Masalah inklusif dalam Islam ini sesungguhnya merupakan kelanjutan dari pemikiran atau gagasan neomodernisme kepada wilayah yang lebih spesifik setelah pluralisme, tepatnya pada bidang teologi.

PALING BENAR

Hal ini berbeda dengan Islam eksklusif, di mana memandang bahwa keyakinan, pandangan pikiran dan diri Islam sendirilah yang paling benar. Sedangkan keyakinan, pandangan, pikiran, dan prinsip yang dianut agama lain salah, sesat, dan harus dijauhi.  Kelompok Islam eksklusif ini memang bersifat tertutup kaku, jumud, tidak terbuka dengan perkembangan mutakhir dan masih mempertahankan paham ortodoks.

Faktor yang menjadi latar belakang timbulnya paham eksklusif adalah doktrin ajaran dan pemahaman. Aliran eksklusif menganggap agama-agama lain seperti Yahudi dan Kristen yang mulanya berasal dari Tuhan, telah terjadi penyimpangan ajaran. Mereka abai bahwa seseorang dikatakan mukmin kalau mereka melakukan rukun iman, salah satunya beriman kepada kitab (Taurat, Zabur, Injil, dan Alquran). 

Aliran eksklusif memiliki pemahaman bahwa Islam sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan bukan Islam dalam pengertian misi kepatuhan, ketundukan, dan keikhlasan beribadah kepada Allah. Paham demikian mengakibatkan mereka hanya menerima agama Islam saja dan tidak menerima agama lainnya. Mengacu pada pendapat Budhi Munawar Rahman, sikap Islam eksklusif adalah sikap yang secara tradisional telah sangat mengakar dalam masyarakat muslim akhir-akhir ini, di mana menganggap bahwa Islam adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran dan keselamatan.

Harus diakui, Nurcholish Madjid boleh dikatakan menjadi pangkal tolak teologi inklusif yang berpijak pada semangat humanitas dan destruktifisasi Islam. Ia berhasil mengelaborasi pandangan keagamaan liberal, terutama dalam rangka mengurai tafsir atas Islam yang mempunyai ciri khas keindonesiaan. Inklusivisme dan pluralisme merupakan karakteristik yang paling menonjol dari gagasannya.

Nurcholish ingin membawa pemahaman Islam yang “inklusif”. Pemahaman ini merupakan prasyarat bagi paham pluralism agama. Ia mencoba membawa sesuatu yang menjadi ciri khas Islam kepada ciri yang lebih umum yaitu sikap keberagaman. Dengan dalih bahwa agama yang dibawa oleh nabi-nabi itu hakikatnya adalah Islam juga. Gagasan Islam inklusif Nurcholish pun mendapatkan tempat penting dalam diskursus pluralisme agama. 

Paling tidak ada tiga gagasan utama yang digulirkannya ke wilayah diskursus intelektual Indonesia sejak awal gerakan pembaruan Islam pada tahun 1970-an: keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan, yang didasarkan pada pandangan etis moral yang lebih substansif dan normativitas doktrin Islam. Nurcholish berusaha menampilkan wajah Islam sebagai agama yang toleran dan terbuka, bahkan agama yang berpihak pada nilai-nilai universal kemanusiaan.

Pada dasarnya, demikian Nurcholish yang akrab dipanggil Cak Nur, kemajemukan masyarakat atau hakikat pluralisme, tidaklah cukup hanya dengan sikap mengakui dan menerima kenyataan bahwa masyarakat itu bersifat majemuk. Akan tetapi, yang lebih mendasar harus disertai dengan sikap tulus menerima kenyataan kemajemukan itu sebagai bernilai positif dan merupakan rahmat Tuhan kepada manusia, karena akan memperkaya pertumbuhan budaya melalui interaksi dinamis dan pertukaran silang budaya yang beraneka ragam. 


PESAN UNTUK BERTAKWA

Sesungguhnya Nurcholish tidak sendirian. Ada beberapa cendikiawan muslim neomodernis yang memiliki concern mendalam terhadap persoalan hubungan agama-agama, bahkan dialog antaragama, misalnya Abdurrahman Wahid dan Kuntowijoyo. 

Menurut Nurcholish, titik pertemuan utama antaragama-agama (samawi) ialah prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Pesan Tuhan dari sudut pandang Alquran maupun seluruh kitab yang turun sebelum Muhammad, adalah pesan untuk selalu bertakwa kepada Allah. 

Takwa yang dimasudkan bukan sekadar seperti ditafsirkan banyak orang “sikap takut kepada Tuhan” atau ”sikap menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya”, akan tetapi lebih menyangkut wacana “kesadaran Ketuhanan”, yaitu kesadaran tentang adanya Tuhan Yang Maha Hadir, atau selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari. 

Implikasi kesadaran ini menyangkut kesediaan umat manusia untuk menyesuaikan diri di bawah cahaya kesadaran ketuhanan. Dalam konteks diskursus teologi agama-agama, menurut Cak Nur, ada beberapa ayat yang sangat penting dan signifikan sebagai rujukan dalam mencari wacana teologi inklusif Islam dalam kesatuan agama-agama.

Sedangkan Abdurrahman Wahid --yang akrab dipanggil Gus Dur-- juga melihat antara Islam dengan pluralisme dalam konteks manifestasi universalisme dan kosmopolitanisme ajaran islam. Ada lima jaminan dasar yang diberikan Islam kepada warga masyarakat, baik secara peroranganmaupun sebagai kelompok. 

Kelima dasar itu tersebar dalam literatur hukum agama (al-kutub al-fiqhiyyah) lama, yang terdiri dari (1) keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum; (2) keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama; (3) keselamatan keluarga dan keturunan; (4) keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum; dan (5) keselamatan profesi.

Akan tetapi, kelima jaminan dasar tersebut hanya menyajikan kerangka teoritik,atau hanya berdimensi moralistik belaka yang tidak berfungsi, jika tidak didukung oleh kosmopolitanisme peradaban Islam. Kosmopolitanisme itu muncul dalam sejumlah unsur dominan, seperti hilangnya batasan etnis, kuatnya pluralitas budaya, dan heterogenitas politik. 

Menurut Gus Dur, Islam yang kreatif dewasa ini sudah mulai hilang, sudah menjadi kelompok berpandangan sempit, eksklusif, dan formalis. Usaha untuk kembali kepada agama yang idealistik, hanya akan membuat idealisme Islam yang menghasilkan bangunan normatif Islam yang eksklusif dan picik. Oleh karena itu, dibutuhkan semacam agenda baru yang mampu mengatasi keadaan kaum Muslim dewasa ini. Gus Dur menginginkan agar universalisme dan kosmopolitanisme Islam itu tampil secara inklusif di tengah pluralitas budaya dan heterogenitas politik masyarakat.

Kemajemukan atau pluralitas umat manusia merupakan kenyataan yang menjadi kehendak Allah. Kebinekaan merupakan sunnatullah. Bukankah di dalam Alquran disebutkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar manusia saling mengenal dan menghargai? Bahwa perbedaan antarmanusia dalam bahasa dan warna kulit harus diterima sebagai kenyataan positif, yang merupakan salah satu tanda kebesaran Allah? Dalam kaitan inilah, maka dialog antaragama menunjukkan urgensinya.

Gunoto Saparie adalah Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment