Selamat Jalan Prie, Kita Sudah Sama-Sama Tua
CATATAN GUNOTO SAPARIE

By TOHAR TOKASAPU 13 Feb 2021, 14:02:12 WIB SENI BUDAYA
Selamat Jalan Prie, Kita Sudah Sama-Sama Tua

Prie GS, kartunis, wartawan, penulis naskah teater, dan motivator, Jumat (12/02/2021) sekira pukul 06.00 WIB meninggal dunia di RS Colombia Semarang, karena serangan jantung.

Jenazah Prie yang bernama lengkap Supriyanto Gendut Sudarsono, dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Bergota 2, berangkat dari rumah duka di Jalan Candi Kalasan Selatan II No 1003 Manyaran Semarang, 

Sejumlah teman punya kenangan tersendiri terhadap Prie. Salah satunya, Gunoto Saparie, yang sama-sama kelahiran Kendal. Kenangan Gunoto dituangkan dalam tulisan berikut. (RED)

Baca Lainnya :

Pagi itu, sehabis subuh, aku tertidur lagi sampai agak siang. Saya terlambat membuka ponsel, sehingga tidak tahu informasi kalau Prie GS meninggal dunia di Rumah Sakit Columbia karena serangan jantung. Innalillahiwainnailaihiraji’un. Saya sungguh merasa sangat kehilangan sahabat yang baik.

Prie GS nama sebenarnya adalah Gendut Supriyanto. Namun, ia suka memakai nama pena Prie GS. Nama yang ia pergunakan dalam tulisan-tulisannya, kartun dan karikaturnya. Ketika ia tampil di radio, televisi, media sosial, juga berceramah sebagai motivator, nama Prie GS ia pakai. Mungkin bahkan istri dan anaknya sendiri sampai lupa nama aslinya.

Saya sudah lama mengenal Prie GS. Sejak ia sesekali nongol pada kegiatan Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal yang saya pimpin pada tahun 1980-an. Pada waktu itu dia sudah suka membuat kartun dan dikirimkan ke sejumlah media massa. 

Dalam forum-forum di Kendal saat itu ia memang suka menarik perhatian dengan pertanyaan dan pernyataan aneh sekaligus lucu. Saya beberapa kali ke tempat kosnya di Pekunden, Semarang, saat dia kuliah di IKIP Negeri Semarang (kini Universitas Negeri Semarang). 

Ia tinggal bersama almarhum Eddy PR (Eddy Pokal Purnomo). Kesan saya, Prie memang banyak bicara dibanding Edyy yang pendiam. Ketika itu dia bilang bahwa dia gagal melamar di Harian Sore Wawasan, namun ia bertekad akan menjadi wartawan surat kabar yang lebih besar. Kalau tidak Kompas, ya Sinar Harapan.

Saya tidak tahu, apakah dia kemudian melamar ke dua koran besar itu, namun beberapa bulan kemudian ternyata dia sudah menjadi wartawan Suara Merdeka.

Ketika di Suara Merdeka dia didaulat menjadi redaktur kebudayaan, saya menelepon dan mengucapkan selamat. Dia hanya tertawa sambil bilang kalau ia menunggu tulisan-tulisan saya, baik puisi, cerita pendek, atau esai. 

“Pasti saya muat, meskipun tulisan sampeyan tidak bermutu. Karena kita kan teman,” katanya sambil mengenang saat-saat bersama berjalan kaki karena tidak memiliki uang untuk naik angkutan kota dari rumah Untung Surendro, Jalan Kelud Raya, sampai Kantor Redaksi Bahari di Jalan Suari. 

“Waktu itu kita kok nggak minta duit ke Untung ya. Dia pasti punya, dia kan karyawan PLN,” kataku.

“Untung ngaku-nya selalu bokek,” katanya sambil tertawa.

Suatu hari, sehabis saya diajak jalan-jalan ke Singapura, Malaysia, dan Thailand, oleh sahabat saya Subroto yang menjadi Kepala Perwakilan Dwima Group saat itu, saya bertemu Prie di Kantor Redaksi Wawasan, waktu itu masih di Simpanglima. Dia menyerahkan naskah novel, saya lupa judulnya. 

“Novelmu buruk, tapi pasti saya muat,” kata saya.

Ia tertawa.

“Durung diwaca kok wis ngomong elek. Asu, asuuuu…”, katanya.

Sayang sekali novel Prie itu tidak disetujui oleh pemimpin umum ketika itu, Supriyadi RS, karena menurut riset para pembaca lebih menyukai cerita silat.

Di luar dugaan, saat itu saya menerima telepon dari Subroto. Dia menanyakan siapa yang akan saya rekomendasikan untuk dipiknikkan ke Singapura? Saya spontan menjawab, “Prie GS.”

Namun, ketika saya akan mengabarkan tentang hal itu ke Prie, ternyata dia sudah tidak ada di ruang tamu. Prie sudah pulang. Namun, saya sepulang dari kantor mampir di tempat kosnya di bilangan Puspowarno. Dalam keadaan riyip-riyip bangun tidur siang, ia saya kabari agar siap-siap untuk berangkat ke Singapura.

“Surat resmi segera menyusul,” kata saya.

“Yes!”, teriaknya.

Persahabatan saya dengan Prie berlangsung cukup intens. Ia selalu menanyakan, "Mana tulisan sampeyan?” Namun, saya selalu bilang kepadanya agar tidak terlalu sering memuat tulisan saya. Nanti mendapat sorotan dari teman-teman. 

“Lha aku isane menehi duit sampeyan saka muat tulisan,” katanya bercanda.

Prie memiliki kelebihan bercerita hal-hal sederhana dan sepele untuk dijadikan bahan tulisan dan omongan. 

Dari hal itu dia mencandainya. Ada sinisme, satire, komedi. Almarhum Darmanto Jatman pun pernah memuji hal itu. Prie, kata Darmanto, tidak perlu terlalu intelektual. Ia bisa mengisi kekosongan ketika orang membutuhkan tertawa di tengah rutinintas, kejemuan, kebosanan, bahkan penderitaan.

Naskah drama Prie yang sempat memenangi Lomba Naskah Drama Dewan Kesenian Jawa Tengah beberapa tahun lalu pun didominasi oleh canda dan kelakar.

Persoalan-persoalan sosial ekonomi yang mencekik justru dikemas dalam komedi. Gaya pengungkapannya santai dan cair. Beberapa tahun terakhir saya memang jarang bertemu Prie GS.

Suatu ketika kami bertemu di bengkel mobil. Kami sama-sama menyerviskan mobil. Dia merasa aneh, karena bertemu di tempat seperti ini. 

“Bukankah kita ini dulu jalan kaki sampai ngos-ngosan karena tidak punya ongkos untuk naik Daihatsu?” katanya. (Orang Semarang menyebut angkutan kota sebagai Daihatsu).

Suatu saat yang lain kami bertemu di Indomaret, sama-sama antre di depan ATM. Ia tertawa, menertawakan masa lalu. “Berarti kita punya saldo juga ya, Mas?” ujarnya.

Namun, ketika dia bertemu saya ketika salat jumat di Masjid Islamic Centre, ia malah geleng-geleng kepala. 

“Ternyata Mas Gun ini pintar akting juga,” ledeknya. 

“Asuwok,” kata saya lirih.

Dia tertawa.

“Ini di masjid lho,” Prie mengingatkan.

Prie sempat bercerita kalau dia dikira masih ada hubungan keluarga dengan saya. 

“Selain sama-sama dari Kendal, GS itu dikira Gunoto Saparie,” ujarnya.

Kami tertawa bersama, nyaris ngakak, sampai para jemaah lain menoleh ke kami.

Di Stasiun TVRI Jateng, Pucanggading, suatu hari, sehabis wawancara tentang kesenian, Prie bertanya: “Kita sudah sama-sama tua ya, Mas. Apakah kini rencana sampeyan?”

“Mengalir sajalah…”.

“Betul, Mas. Mengalir saja, nanti kan sampai sendiri ke Tuhan.”

Sebuah percakapan yang dalam, filosofis. Saya hanya mengangguk-angguk.

Selamat jalan, Prie GS.

Semoga kau tidur damai di alam barzakh sampai hari kebangkitan tiba. Semoga Tuhan melapangkan jalanmu menuju surga jannatun na’im. Saya pasti menyusulmu.

Gunoto Saparie adalah mantan wartawan Harian Wawasan.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment