Tri Hastuti Juara Lomba Cipta Puisi Nasional
Dari Segi Tema Rata-rata Bagus

By TOHAR TOKASAPU 08 Des 2020, 22:09:24 WIB SENI BUDAYA
Tri Hastuti Juara Lomba Cipta Puisi Nasional

Purwokerto (beritakita.net) - Tri Hastuti dari Purbalingga terpilih sebagai Juara I Lomba Lomba Cipta Puisi Nasional 2020 yang diadakan Komunitas Sastra Ikutlomba Purwokerto belum lama ini.  

Puisinya berjudul “Di Surau itu” berhasil menyisihkan ribuan puisi dari para peserta lain dari seluruh Indonesia. Puisi ini mendapatkan nilai terbanyak tanpa ada perdebatan berarti dari para juri.

Ketua panitia pelaksana Wahyuli Aprianto mengatakan, dewan juri dalam lomba cipta puisi kali ini adalah Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah Gunoto Saparie, Direktur Eksekutif Yayasan Cinta Sastra Jakarta Nia Samsihono, dan mantan Kepala Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Jakarta Ariany Isnamurti. 

Baca Lainnya :

"Mereka satu bulan penuh melakukan penilaian dan rapat dua kali secara virtual untuk menentukan para juara," kata salah seirang juri, Gunoto Saparie seraya menambahkan, juara kedua dalam lomba cipta puisi itu adalah Nuri Feriska, dari Sidoarjo dengan puisinya “Segelas Air Hangat”.

Sedangkan juara ketiga diraih Putu Ratna Indiyani Manik, juga dari Sidoarjo, dengan puisinya “Langit Masih Saja Kesepian”. Para juri menetapkan pula juara harapan I Nur Cholis Majid dari Kutai dengan puisi “Jaring-jaring Sunyi”.

Kemudian juara harapan II Kanza Irdha Rumi dari Bekasi dengan puisi “Ke Mana Aku Harus Pergi”. Sedangkan Amelya Septiana dari Jambi dengan puisi “Napas Rindu di Pengujung Waktu” terpilih sebagai juara harapan III. 

"Selain itu, para juri juga menetapkan para peserta yang masuk dalam 40 besar,” ujar Gunoto. Ia menambahkan, kriteria yang dipakai oleh para juri dalam penilaian adalah kesesuaian dengan tema, pesan yang ingin disampaikan, kerapian penulisan, diksi dan gaya bahasa, dan estetika atau keindahan. 

Gunoto secara umum menilai, puisi-puisi yang dikirimkan para peserta ke dalam lomba dari segi tematik rata-rata cukup bagus. Namun, sayang sekali banyak yang tidak memperhatikan bentuk atau cara pengungkapannya.

Para peserta pun banyak yang mengabaikan ejaan. Sehingga ada puisi seharusnya cukup memadai, namun menjadi jatuh karena masalah penggunaan bahasa yang buruk. (GS/TTS)





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment