Ustad Ali Guru Ngaji dan Pengrajin Kaligrafi
Kunci Pemasarannya Senang dan Punya Uang

By Tohar Tokasapu 13 Sep 2020, 13:58:33 WIB SENI BUDAYA
Ustad Ali Guru Ngaji dan Pengrajin Kaligrafi

 
Semarang, beritakita.net - Berprofesi sebagai guru ngaji, ternyata tidak membatasi seseorang untuk berkreasi dalam bidang seni. Setidaknya itulah yang dilakoni Ustad Ali Imron, A.Md, MS. Meski sebagai seorang guru ngaji, Ustad Ali justru sukses mengembangkan seni kaligrafi.
 
Ustad Ali, sapaan akrabnya, yang tinggal di Perumahan Pondok Majapahit I Mranggen, Demak, selain menjadi guru ngaji dan pengrajin kaligrafi, juga dikenal sebagai penceramah agama atau mubaligh. Ustad Ali tidak hanya piawai membuat atau memproduksi seni kaligrafi. Namun juga dikenal mahir dalam hal pemasaran.
 
Pengalaman pemasaran kerajinan kaligrafi itu, diperoleh saat Ustad Ali bergabung dengan
usaha kaligrafi yang milik DR. Darwito, SE, MM di Kota Semarang, yang produknya telah mendunia. Hampir selama lima tahun (1995-2010), Ustad Ali bergabung dengan usaha kaligrafi pimpinan Darwito. Bahkan Ustad Ali menjadi salah seorang perintis usaha tersebut.
 
“Saya ikut  cikal bakal perintisan usaha kaligrafi yang dikelola Pak Darwito. Dalam hal pemasaran kaligrafi, Pak Darwito memang hebat, sehingga usahanya berkembang pesat. Pemasarannya tidak hanya di dalam negeri. Tapi produknya juga diekspor ke luar negeri. Terutama ke negara-negara di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi,” jelas Ustad Ali.
 
Merasa sudah mempunyai pengalaman di bidang pemasaran, pada tahun 2010 Ustad Ali mengundurkan diri sari usaha kaligrafi yang milik Darwito dan memilih berusaha secara mandiri. Maka sejak saat itu hinggi kini, Ustad Ali mengembangkan usaha seni kaligrafi milik sendiri yang dikembangkan di rumah maupun di showrom.
 
“Selain di rumah, saya membuka showrom kaligrafi di Ruang Pemer milik Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan Usaha Menengah Kecil Mikro (Disperindagkop dan UMKM) Kabupaten Demak di Kecamaran Mranggen. Tepatnya di gedung bekas kantor Kecamatan Mrangen, jalan raya Semarang-Marnggen,” ungkap Ustad Ali.
 
Ustad Ali merasa sangat terbantu adanya showrom milik Disperindagkop dan UMKM Kabupaten Demak. Pasalnya, selama menempati showrom di gedung pamer itu Ustad Ali tidak dipungut biaya atau gratis. Terlebih di showrom itu didukung fasilitas lengkap. Bahkan jika dinas tersebut mengadakan pelatihan kerajinan, Ustad Ali sering diajak untuk menjadi narasumber.
 
“Pemasaran produk kami masih memenuhi pasar lokal di sejumlah kota di Jawa Tengah. Belum bisa menembus pasar manca negara seperti Pak Darwito,” tutur Ustad Ali, seraya menambahkan, hasil kerajianannya paling murah dijual Rp. 50 ribu dan paling mahal Rp. 3,5 juta. Ustad Ali juga melayani penjualan online melalui HP/WA 081227237524.
 
Sebenarnya, kata Ustad Ali, hasil kerajinan seni kaligrafi tidak ada patokan harganya. Harga tergantung dari kesulitan produksi dan bahan piguranya. Sedangkan kunci sukses penjualan kaligrafi, sebenarnya tergantung pada pembeli merasa senang dan punya uang.
 
“Pembeli senang, tapi tidak punya uang, ya tidak jadi beli kaligrafi. Sebaliknya, pembeli punya uang, tapi merasa tidak senang, juga tidak jadi membeli,” kata pria asal Sragen, ini seraya mengaku usahanya terkendala dengan permodalan. Ia berharap bisa mendapatkan modal lebih besar dari lembaga keuangan dengan bungan ringan, sehingga usahanya bisa berkembang. (Jay)  
 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment