Akibat Pandemi, Sinden Sukarti Banting Stir Jadi Tukang Ngarit
BERHARAP PEMKAB GROBOGAN BISA CARI SOLUSI

By TOHAR TOKASAPU 06 Sep 2021, 18:29:30 WIB SENI BUDAYA
Akibat Pandemi, Sinden Sukarti Banting Stir Jadi Tukang Ngarit

Keterangan Gambar : Sinden Sukarti yang akrab disapa Mbak Punki, mengaku tidak malu, meski menjadi tukang ngarit, saat sepi tanggapan.


Grobogan (beritakita) - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang masih diperpanjang oleh pemerintah, membuat sebagian pekerja seni merasakan dampaknya. Seperti halnya yang dialami seorang pekerja seni, sinden atau waranggana di Grobogan ini. 

Pekerja seni ini bernama Sukarti. Warga Dusun Tambakselo, Desa Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jateng mengaku, selama pandemi, job atau tanggapan sepi. Untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, Sukarti banting stir. Ia bekerja sebagai pencari rumput dan menjual tebon atau batang jagung.

"Ini saya lakukan supaya bisa mendapatkan upah untuk biaya kebutuhan hidup. Saya tidak tahu kahanan seperti ini akan berakhir. Sudah hampir dua tahun saya tidak bekerja, barang-barang berharga yang ada di rumah sudah saya jual untuk bertahan hidup," keluh Mbak Punki, sapaan akrab Sukarti, Senin (6/9/2021).

Baca Lainnya :

Beban hidup Sukarti, ibu dari dua anak itu makin berat. Pasalnya, sejak 11 tahun lalu Mbak Punki hidup menjada, karena sang suami meninggal dunia. Selain menghidupi dua anaknya, Sukarti juga menghidupi ibunya yang sudah lanjut usia. Karena itu Sukarti berharap Covid segara berakhir, sehingga pekerja seni seperit dirinya bisa pentas lagi.

"Dulu saat awal dan pertengahan Covid, kita masih bisa kucing-kucingan dengan petugas untuk pentas. Tapi sekarang pelarangan pentas makin ketat. Karena sering dibubarkan petugas saat ada tanggapan, kita lelah dan kita para seniman mengalah tidak menerima tanggapan atau tidak bekerja," ungkap Sukarti.

Untuk bertahan hidup, mencari rumput dan menjual tebon jagung, jadi pilihan Sukarti. Hal itu dilakukan, karena sejumlah barang berharga miliknya sudah terjual. Sukarti berharap, dengan melandainya kasus Covid di Kabupaten Grobogan, agar ada kebijakan kelonggaran bagi pekerja seni. Terlebih pembelajaran tatap muka (PTM) juga sudah mulai dibuka.

"Saya tidak malu menjadi tukang ngarit (pencari rumpu) untuk sejumlah ternak sapi tetangga saya. Ini demi menghidupi ibu dan kedua anak saya," ungkap Sukarti, seraya menyanyi, yang katanya untuk menghibur diri.

Ketua Forum Komunitas Pekerja Seni (FORKAPI) Kabupaten Grobogan, Ki Hardono saat dikonfirmasi terkait kondisi para pekerja seni di Grobogan, mengaku sangat prihatin, terlebih yang dialami anggotanya Sukarti Pungki. Hardono berharap Pemerintah Kabupaten Grobogan bisa segera memberi solusi agar para pekerja seni diberi kelonggaran untuk pentas.

(SOES ADNAN/M PURWONO)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment