BBPJT Gelar Bimtek Penulisan Cerpen bagi Santri
JADI UJUNG TOMBAK CIPTAKAN MODERASI

By TOHAR TOKASAPU 29 Apr 2021, 22:00:32 WIB SENI BUDAYA
BBPJT Gelar Bimtek Penulisan Cerpen bagi Santri

Keterangan Gambar : Narasumber bimtek penulisan cerpen dan pimpinan Ponpes Kauman Lasem bergambar bersama.


Rembang (beritakita.net) - Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Cerpen di Kalangan Santri di Kabupaten Rembang. Acara digelar di Pesantren Kauman Lasem, Rembang, pada 27-30 April 2021. 

Bimtek diikuti 40 santri secara tatap muka dan 100 peserta umum yang mengikuti secara virtual, baik melalui aplikasi Zoom maupun Youtube. Bimbingan teknis selama empat hari itu menghadirkan narasumber Triyanto Triwikromo, sastrawan yang juga wapemred koran Suara Merdeka, dan peneliti dari BBPJT.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Dr. Ganjar Harimansyah mengatakan, bimtek tersebut digelar untuk mengembangkan kemampuan para santri dalam penulisan kreatif, khususnya cerpen. 

Baca Lainnya :

“Kemampuan menulis cerpen di kalangan santri ini diharapkan dapat melahirkan karya-karya yang unik, berciri pesantren, dan bisa memperkaya khazanah sastra Indonesia,” kata Ganjar.

Ganjar menjelaskan, literasi di kalangan santri diharapkan meningkat ke arah yang lebih kreatif dan modern. “Santri memiliki potensi baca tulis yang sangat besar dan ini perlu dikembangkan terus-menerus,” tambahnya.

Pimpinan Pesantren Kauman Lasem KH. Muhammad Zaim Ma’shoem yang hadir dalam acara itu mengatakan, bimtek menulis bagi santri diharapkan bisa menjadi ujung tombak dalam menciptakan moderasi di kalangan umat. 

“Lasem adalah contoh kota yang berhasil melaksanakan moderasi dan toleransi. Masyarakat Lasem memiliki hubungan antaretnis, antarsuku, antaragama, dan antarbudaya yang begitu cair,” tanda Muhammad Zaim Ma'shoem.

Dikatakan, melalui karya puisi, cerpen, atau esai yang dihasilkan, ada misi-misi moderasi khas pesantren yang disampaikan kepada masyarakat. Hal itulah yang nantinya akan menjadi sumbangsih pesantren kepada bangsa ini, bahkan kepada dunia. 

BUKAN CERITA MENGUMPAT

Sedangkan Gubernur Jateng, H. Ganjar Pranowo, dalam sambutan pembukaan menyatakan, bila literasi di kalangan santri baik, yang muncul adalah narasi yang baik, bukan hoaks. 

“Bila para santri memiliki keterampilan menulis, narasi-narasi yang muncul juga narasi yang baik, bukan cerita mengumpat, bukan cerita marah-marah,” tandas Ganjar. 

Ganjar Pranowo menjelaskan. para santri yang pintar menulis cerpen nantinya dapat menghasilkan banyak cerita tentang moderasi beragama. Mereka bisa menulis cerita relasi-relasi sosial, misalnya cerita relasi antara santri dengan orang Tionghoa di Lasem.

“Kultur yang luar biasa antara Jawa, Arab, Tionghoa sudah menjadi satu. Hal itu bisa dibuat dalam narasi catatan cerpen. Santri juga dapat menggali seni budaya yang ada di sana dengan cerita heritage-nya yang bermacam-macam bentuknya,” tambahnya. 

(GS/TTS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment