Konstruksi Identitas Lokal Warnai Novel Bau Gunoto
PATUT JADI BAHAN PENELITIAN SASTRA

By TOHAR TOKASAPU 14 Jul 2021, 15:47:05 WIB SENI BUDAYA
Konstruksi Identitas Lokal Warnai Novel Bau Gunoto


Semarang (beritakita.net) - Konstruksi identital lokal dan pemaknaan kembali atas pahlawan daerah menjadi warna utama novel Bau karya Gunoto Saparie. Baureksa adalah tokoh pemberani khas pesisir. Ia orang biasa yang diangkat Sultan Agung sebagai Bupati Kendal pertama yang berpusat di Kaliwungu.

Hal itu dikatakan oleh Dr. Sukarjo Waluyo, M.Hum, staf pengajar Prodi Magister Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, dalam Bincang Sastra: Bedah Buku Novel Bau karya Gunoto Saparie secara daring di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT), Semarang, Selasa, 13 Juli 2021. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara BBPJT dengan Prodi Magister Ilmu Susastra Undip.

Baca Lainnya :

Novel Bau pernah menjadi nomine terbaik Penghargaan Prasidatama 2020 dan diterbitkan oleh Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal. Novel ini mengisahkan dilema tokoh Baureksa menghadapi VOC dan Sultan Agung. Dua novel nomine lain adalah Gandayoni karya Asroni Asikin dan Dendam karya Gunawan Budi Susanto.

Dalam bedah novel yang dipandu Inni Inayati Istiana itu, Sukarjo mengatakan, Gunoto mencoba melakukan konstruksi local hero dengan menghadirkan tokoh Bau, nama panggilan Baureksa. Bau yang santri Jawa, pernah menjadi budak kapal Portugis, perompak atau bajak laut, kemudian menjadi bupati di daerah pesisir dan satria.

Dalam kaitan ini, Sukarjo ketika memetakan novel Bau menemukan tiga hal. Yaitu mengenai Laut Jawa sebagai arena, konstruksi identitas Jawa pesisir, dan memori kolektif kejayaan masa lalu.

“Novel ini berusaha menghidupkan kejayaan masa lalu untuk hadir kembali pada masa sekarang,” tandas Sukarjo.

Struktur novel ini, kata Sukarjo, bisa dilihat dari tokoh, latar, dan alurnya. Tokohnya adalah Bau, sosok orang biasa yang terlalu berani menyediakan diri pada kehidupan yang penuh misteri. Kaliwungu (dan pesisir Jawa) menjadi latar sosial yang penuh dinamika. Sedangkan alurnya maju, menggambarkan realitas sosial masyarakat dan silang budaya di tanah Jawa pada masanya.

Sukarjo menyatakan, membaca novel ini kita perlu sejumlah referensi. Karya ini patut menjadi bahan penelitian sastra para mahasiswa. Banyak hal dan segi menarik yang patut dikaji di sini. Gunoto mengatakan, novel ini semula berupa cerita pendek berjudul “Sang Baureksa” yang dikembangkan. Ia menyatakan terpengaruh oleh Korrie Layun Rampan yang mengembangkan

cerpen “Upacara” menjadi novel dan memenangkan Sayembara Mengarang Novel Dewan Kesenian Jakarta.

“Sebenarnya banyak pengarang lain yang menulis novel hasil pengembangan dari cerpen,” katanya sambil menambahkan, sesungguhnya ia tidak berpretensi untuk menulis novel sejarah, meskipun sebelumnya harus melakukan riset, membaca buku, dokumen, dan arsip-arsip.

Sebelumnya Kepala BBPJT Dr. Ganjar Harimansyah, M.Hum yang diwakili Kepala Subbag Tata Usaha Andy Rahmadi, S.Kom dan Kepala Prodi Magister Ilmu Susastra Undip Dr. Muhammad Suryadi, M.Hum memberikan sambutannya. Pada intinya mereka menyatakan gembira bisa bekerja sama memfasilitasi kegiatan bedah novel ini dan berharap bisa dilanjutkan di masa mendatang.

(GS/TTS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment